Sampai saat ini Pemerintah dan DPR AS masih belum sepakat mengenai RAPBN AS untuk tahun anggaran 2012 yang akan mulai berjalan 1 Oktober nanti. Ketidaksepakatan itu terjadi karena adanya perbedaan pendapat mengenai besarnya defisit anggaran dalam RAPBN tsb. DPR (Congress) yang dikuasai Partai Republik bersikukuh bahwa Pemerintah harus mengurangi anggaran yang tidak sangat perlu, sehingga tidak menambah utang negara yang sudah mencapai hampir 100% dari PDBnya. Sebaliknya Presiden Obama (Partai Demokrat) menganggap bahwa utang baru sangat diperlukan saat ini, untuk memberikan stimulus lanjutan bagi perekonomian yang belum pulih dari krisis tahun 2008/2009. Tanpa tambahan anggaran, maka resesi dapat muncul kembali dan tingkat pengangguran yang masih sekitar 9% akan semakin tinggi. Sedangkan Senat yang dikuasai Partai Demokrat tentu saja mendukung Presiden Obama.
Sumber: wikipedia.org
RAPBN AS
Presiden Obama pada Februari lalu mengajukan usulan RAPBN sebanyak USD 3,7 triliun. Anggaran sebanyak ini akan digunakan untuk membiayai anggaran mengikat (mandatory) sebesar USD 2.109 T (57%) dan anggaran tidak mengikat (dyscretionary) sebesar USD 1.344 T (43%). Anggaran mengikat adalah untuk membiayai program-program yang ditetapkan oleh undang-undang seperti jaminan sosial (social security), program kesehatan (medicare dan medicaid), tunjangan pekerjaan, dll. Anggaran tidak mengikat digunakan untuk mewujudkan visi, misi dan program-program unggulan presiden terpilih, seperti pendidikan, energi, iptek, pertahanan, membayar utang, dll. Karena penerimaan negara lebih kecil dari kebutuhan untuk berbagai keperluan tersebut, maka kekurangannya diperoleh dari berutang ke perorangan, badan hukum atau ke pemerintah negara lain melalui penjualan obligasi negara. Negara-negara pembeli surat utang pemerintah AS adalah China, Jepang, Inggris, Brazil, dll. Defisit anggaran yang diusulkan Pemerintah Obama pada TA 2012 adalah sebesar USD1,1 triliun, yang sudah menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Akumulasi dari defisit sebelumnya menjadi utang negara yang pada tahun ini berjumlah USD 14 triliun. Secara absolut utang pemerintah AS adalah yang terbesar di dunia, walaupun secara relatif (dalam %PDB) masih lebih rendah dari banyak negara, seperti Jepang dan negara2 Eropa yang saat ini sedang mengalami krisis utang (Yunani, Irlandia, Spanyol, Portugal dan Italia). Jepang berbeda dengan negara2 pengutang besar lain karena sebagian besar utangnya adalah kepada penduduk sendiri, bukan kepada pemerintah/penduduk negara lain.
Motivasi Politik
Persoalan defisit anggaran AS jelas mempunyai latar belakang politik. Partai Republik yang saat ini menguasai DPR mempunyai peluang emas untuk menggagalkan program Presiden Obama sehingga pada pemilu tahun depan, calon Partai Republik dapat menggantikan Obama. Sebaliknya, Obama juga tidak ingin masa pemerintahannya hanya berlangsung satu periode. Oleh sebab itu ia memerlukan anggaran tambahan untuk mempercepat pemulihan ekonomi dan juga untuk membiayai program-program yang dijanjikannya saat pemilu. Jika ekonomi tumbuh baik dan janji-janjinya terpenuhi maka ia akan dapat memenangi pemilu 2012.
Motivasi politik dalam manajemen pemerintahan sudah menjadi persoalan sejak lama. Publik AS tentunya tidak nyaman dengan keadaan ini, namun konstitusi AS memungkinkan hal itu terjadi. Sebetulnya, sebelum era Presiden Nixon, pemerintah cenderung mempunyai kekuatan yang lebih besar dalam mengajukan RAPBN daripada Parlemen (DPR dan DPD), sehingga pembahasan RAPBN di Parlemen cenderung selalu berlangsung mulus. Hal ini karena pemerintah mempunyai informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan yang dimiliki oleh Parlemen. Pihak Legislatif kemudian berusaha menandingi keunggulan pihak Eksekutif dalam perencanaan penganggaran dengan menetapkan UU Congressional Budget and Impoundment Control Act of 1974. UU ini mengamanatkan dibentuknya Congressional Budget Office (CBO), yang tugasnya memberikan pertimbangan yang tidak memihak kepada pemerintah maupun kepada DPR dan DPD mengenai berbagai persoalan anggaran. CBO ini secara periodik membuat analisis tentang anggaran dan kaitannya dengan perekonomian (antara lain: Economic Outlook: Fiscal Years 2011 to 2021, Januari 2011), dan memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan yang diajukan DPR dan DPD. Dengan mempertimbangkan saran CBO, yang tentunya sukarela, DPR dan DPD memberikan keputusan mengenai RAPBN yang diajukan pemerintah. Adapun UU yang sebetulnya mengurangi kekuasaan pemerintah ini berhasil menjadi UU, karena konon Presiden Nixon yang sedang terlibat skandal Watergate memerlukan dukungan Parlemen, sehingga is meloloskan RUU tentang CBO ini, walaupun akhirnya ia diimpeach juga oleh Parlemen.
Solusi untuk Kebuntuan
Berbagai pihak sudah memberikan masukan kepada Eksekutif maupun Legislatif agar segera mencapai titik temu dalam persoalan anggaran tahun 2012 ini. Tidak kurang dari Ben Bernanke, Gubernur Bank Sentral, menyatakan bahwa solusi harus segera ditentukan, karena perekonomian AS sudah semakin gawat. Sementara ini, kedua pihak sepakat bahwa defisit anggaran harus berkurang. Perbedaannya adalah Partai Republik ingin agar pengurangan defisit dimulai tahun ini juga, yang jika perlu malah tidak usah membayar utang dulu, sedangkan Pemerintah ingin agar defisit dimulai secara bertahap, namun tahun ini jangan dulu tidak menambah utang. Direktur Office of Management and Budget (OMB), Jacob Lew yang diangkat Obama, tentunya sudah mempunyai perhitungan bagaimana defisit ini akan dikurangi sampai beberapa tahun ke depan sehingga mencapai tingkat yang terkendali. Namun Partai Republik masih terus berusaha menekan Pemerintah Obama agar tidak menambah defisit dengan berbagai pertimbangan yang rasional juga.
Apa yang Akan Terjadi?
Hari-hari ini kita akan menyaksikan bagaimana solusi terhadap ontran-ontran defisit anggaran ini akan diselesaikan oleh ke dua belah pihak. Ada tiga kemungkinan yang dapat terjadi: (1) keduanya tidak mau berubah dari pendapat semula, sehingga RAPBN 2012 akan sama dengan APBN 2011; (2) salah satu bersedia menerima posisi pihak lain; (3) win-win solusion: DPR setuju bahwa ada penambahan utang sehingga menambah defisit anggaran tetapi tidak sebesar yang diinginkan Obama sehingga harus ada pengurangan anggaran untuk program tidak mengikat, seperti untuk perang di Afganistan yang masih sangat besar. Mudah-mudahan ada kompromi yang baik, karena kalau AS batuk maka perekonomian dunia dapat ikut berguncang.
Implikasi bagi Kita
Persoalan defisit anggaran di AS dan di negara2 lain memberi pelajaran yang berharga buat Indonesia. Defisit anggaran harus ditangani sejak awal secara hati-hati, jika tidak maka akan menjadi masalah besar yang sulit diatasi, bahkan jika ada bantuan dari pihak luar sekalipun. Pemerintah perlu secara jujur menjelaskan kepada semua partai dan juga kepada masyarakat akan kondisi utang negara, proyeksinya dan konsekuensinya pada anggaran tahunan di masa depan. Selanjutnya, ini yang sulit, adalah berusaha agar motivasi politik tidak masuk ke dalam urusan defisit anggaran, darimanapun datangnya. Jangan sampai masalah defisit anggaran menjadi alat permainan politik untuk mencapai tujuan jangka pendek yang dapat merugikan kepentingan bangsa yang lebih besar di masa depan.
–o0o–
Penulis adalah pemerhati kebijakan publik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar